Mei 2008
Yayasan At-Taubah, 16 Mei 2008
MASALAH :
1. Bagaimana hukumnya Vasektomi (memutus saluran sperma) dan Tubektomi (memutus saluran sel telur) ?
2. Ketika Rasulullah Saw berdakwah di Makah mendapat tantangan dan rintangan yang luar biasa bahkan dari kaum Quraisy sendiri, sedangkan ketika beliau hijrah ke Madinah (Yatsrib) langsung disambut dan diterima dengan baik, padahal sebelumnya beliau belum pernah dakwah ke sana. Apa yang menjadi penyebabnya ?
3. Semua permulaan surat dalam Al-Qur’an didahului dengan basmalah, kecuali surat At-Taubah. Mengapa demikian?
4. Apa yang dimaksud dengan Tariqah Umum, Tariqah Dzikir danTariqah Tashawuf ?
Kesimpulan jawaban :
1. Hukum vasektomi dan tubektomi, tapsili :
a. Haram, jika bertujuan untuk memutuskan kehamilan (bersifat tetap, tidak dibuka lagi), karena menyalahi tujuan perkawinan (diantaranya untuk memperbanyak keturunan) dan melawan kodrat.
b. Makruh, jika tidak tetap (hanya bersifat sementara, untuk menjarangkan kehamilan) dan tanpa udzur.
c. Boleh, jika untuk menunda kehamilan karena ada udzur, seperti untuk pendidikan anak, atau berdasarkan keterangan dokter berbahaya bila punya anak lagi.
Dasar : - I’anatut Thalibin juz 4 hal. 147; Tuhfatul Muhtaj fi Syarhil Minhaj juz 35 hal. 19; Nihayatul Muhtaj ila Syarhil Minhaj juz 23 hal. 318; Hasyiyah al-Jamal juz 19 hal. 151 (dalam Al-Maktabah asy-Syamilah)
- Fiqhul Islam wa Adilatuhu (juz 7 hal. 194 dalam Al-Maktabah asy-Syamilah)
- Bajuri juz 2 hal. 92-93
- Jadal Ma’ad juz 4
- Fatawi Ibnu Jiad juz
- Asna Mathalib juz
Nihayatul Muhtaj ila Syarhil Minhaj juz 23 hal. 318 dalam Al-Maktabah asy-Syamilah :
وَيَحْرُمُ اسْتِعْمَالُ مَا يَقْطَعُ الْحَبَلَ مِنْ أَصْلِهِ كَمَا صَرَّحَ بِهِ كَثِيرُونَ ، وَهُوَ ظَاهِرٌ ا هـ …… وَقَوْلُهُ مِنْ أَصْلِهِ : أَيْ أَمَّا مَا يُبْطِلُ الْحَمْلَ مُدَّةً وَلَا يَقْطَعُهُ مِنْ أَصْلِهِ فَلَا يَحْرُمُ كَمَا هُوَ ظَاهِرٌ ، ثُمَّ الظَّاهِرُ أَنَّهُ إنْ كَانَ لِعُذْرٍ كَتَرْبِيَةِ وَلَدٍ لَمْ يُكْرَهْ أَيْضًا وَإِلَّا كُرِهَ.
“Dan haram mempergunakan barang yang memutuskan kehamilan dari asalnya, sebagaimana telah dijelaskan oleh kebanyakan Ulama, Ini adalah qaol yang zhahir (jelas)….Adapun sesuatu yang membatalkan (menunda) kehamilan untuk sementara dan tidak memutus kehamilan pada asalnya, maka tidaklah haram, sebagaimana qaol zhahir. Kemudian jika keadaannya (menunda kehamilan) itu karena ada udzur seperti untuk pendidikan anak, maka tidak dimakruhkan. Jika tidak ada udzur (menunda kehamilan) hukumnya makruh”.
2. Ketika Rasulullah Saw hijrah ke Madinah disambut baik oleh orang Madinah, karena:
1) Atas izin Allah Swt.
2) Sebelum beliau hijrah ke Madinah:
- Para shahabat sudah lebih dahulu hijrah ke Madinah
- Sudah ada orang Madinah yang masuk Islam dan sering bertemu Rasul di Masjidil Haram
- Ada 12 orang tokoh Madinah masuk Islam dan meminta beliau agar hijrah ke Madinah
- Sebelumnya juga sudah ada 6 kelompok yang melakukan baiat kepada Rasulullah Saw
- Baiat Aqabah II terdiri dari 72 laki-laki dan 1 wanita
3) Tabiat orang Madinah lebih lunak dibandingkan kaum Quraisy
Dasar : - QS. Al-Baqarah : 213
- Shahih Bukhari juz 13 hal. 235 (Al-Maktabah asy-Syamilah)
- Tafsir Ibnu Katsir juz 5 hal. 111 (Al-Maktabah asy-Syamilah)
- Sirah an-Nabawiyah li Ibni Katsir juz 2 hal. 226 (Al-Maktabah asy-Syamilah)
- Hulashah Nurul Yaqin jilid 2
فَهَدَى اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا لِمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَاللَّهُ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (البقرة: 213)
“Kemudian Allah memberi petunjuk kepada orang-orang yang beriman bagi apa yang mereka perselisihkan tentang al-haq dengan idzin-Nya. Dan Allah memberi petunjuk siapa yang dikehendakinya kepada jalan yang lurus”. (QS. Al-Baqarah: 213).
وَقَالَ أَبُو مُوسَى عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – « رَأَيْتُ فِى الْمَنَامِ أَنِّى أُهَاجِرُ مِنْ مَكَّةَ إِلَى أَرْضٍ بِهَا نَخْلٌ ، فَذَهَبَ وَهَلِى إِلَى أَنَّهَا الْيَمَامَةُ أَوْ هَجَرُ ، فَإِذَا هِىَ الْمَدِينَةُ يَثْرِبُ » .( صحيح البخارى: 13/235)
“Kata Abu Musa dari Nabi Saw: Aku melihat dalam mimpiku bahwa aku hijrah dari Mekah ke tanah (negeri) yang banyak pohon kurma, lalu hilanglah ketakutanku karena sesungguhnya negeri itu tujuan atau kepindahan, yaitu Negeri Yatsrib”.
Tafsir Ibnu Katsir juz 5 hal. 111 dalam Al-Maktabah Samilah :
قال الإمام أحمد: ……. عن ابن عباس قال: كان النبي صلى الله عليه وسلم بمكة ثم أمر بالهجرة، فأنزل الله: وَقُلْ رَبِّ أَدْخِلْنِي مُدْخَلَ صِدْقٍ وَأَخْرِجْنِي مُخْرَجَ صِدْقٍ وَاجْعَلْ لِي مِنْ لَدُنْكَ سُلْطَانًا نَصِيرًا (الإسراء :80). وقال الحسن البصري في تفسير هذه الآية: إن كفار أهل مكة لما ائتمروا برسول الله صلى الله عليه وسلم ليقتلوه أو يطردوه أو يوثقوه، وأراد الله قتال أهل مكة، فأمره أن يخرج إلى المدينة (تفسير بن كثير :5/111)
“Kata Imam Ahmad…dari Ibnu Abas: Adalah Nabi Saw berada di Mekah, kemudian beliau diperintah untuk hijrah, maka Allah menurunkan ayat “Wa qul rabbi adkhilniy mudkhala shidqi……dst. Ayat .(QS. Al-Isra: 80). Dan kata Imam Al-Hasan al-Bashri dalam menafsirkan ayat ini: Sesungguhnya kafir Mekah tatkala mereka bermusyawarah tentang Rasulullah Saw agar mereka membunuhnya atau menyingkirkannya, maka Allah menghendaki membunuh ahli Makah, maka Allah memerintahkan kepada Rasulullah Saw untuk hijrah ke Madinah”.
Sirah an-Nabawiyah li Ibni Katsir juz 2 hal. 226 dalam Al-Maktabah Samilah :
أرشده الله وألهمه أن يدعو بهذا الدعاء، أن يجعل له مما هو فيه فرجا قريبا ومخرجا عاجلا، فأذن له تعالى في الهجرة إلى المدينة النبوية، حيث الانصار والاحباب، فصارت له دارا وقرارا، وأهلها له أنصارا. وقال قتادة: ” أدخلني مدخل صدق ” المدينة ” وأخرجنى مخرج صدق ” الهجرة من مكة ” واجعل لى من لدنك سلطانا نصيرا ” كتاب الله وفرائضه وحدوده. قال ابن إسحاق: وأقام رسول الله بمكة بعد أصحابه من المهاجرين ينتظر أن يؤذن له في الهجرة. (السيرة النبوية لابن كثير: 2/226)
Allah memberi petunjuk kepada Nabi Saw dengan do’a ini (“Wa qul rabbi adkhilniy mudkhala shidqi……” dst. Ayat) bahwa Allah akan menjadikan bagi beliau kelapangan yang dekat dan jalan keluar yang segera. Lalu Allah mengizinkan bagi beliau hijrah ke Madinah, dimana terdapat kaum Anshar (penolong) dan al-Ahbab (pecinta kasih saying). Maka jadilah (Madinah) bagi beliau rumah (negeri) dan tempat menetap, dan penduduknya bagi beliau menjadi penolong.
Kata Syekh Qatadah: “Adkhilniy mudkhala shidqi” adalah Madinah, “Wa akhrijniy makhraja shidqi” adalah hijrah dari Makah, “Waj’al liy mil ladunka sulthaanan nashiira” adalah Kitabullah, kewajibang-kewajiban dan hukuman-hukuman.
Kata Syekh Ibnu Ishaq: Rasulullah tetap tinggal di Mekah setelah para shahabat hijrah, menunggu izin dari Allah untuk hijrah.
ثُمّ إنّ رَسُولَ اللّهِ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ لَقِيَ عِنْدَ الْعَقَبَةِ فِي الْمَوْسِمِ سِتّةَ نَفَرٍ مِنْ الْأَنْصَارِ كُلّهُمْ مِنْ الْخَزْرَجِ… فَدَعَاهُمْ رَسُولُ اللّهِ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ إلَى الْإِسْلَامِ فَأَسْلَمُوا ….ثُمّ رَجَعُوا إلَى الْمَدِينَةِ فَدَعَوْهُمْ إلَى الْإِسْلَامِ فَفَشَا الْإِسْلَامُ فِيهَا حَتَى لَمْ يَبْقَ دَارٌ إلّا وَقَدْ دَخَلَهَا الْإِسْلَامُ فَلَمّا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ جَاءَ مِنْهُمْ اثْنَا عَشَرَ رَجُلًا … فَوَاعَدَنَا بَيْعَةَ الْعُقْبَةِ …فَلَمّا كَانَتْ لَيْلَةُ الْعَقَبَةِ الثّلُثُ الْأَوّلُ مِنْ اللّيْلِ تَسَلّلَ إلَى رَسُولِ اللّهِ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ ثَلَاثَةٌ وَسَبْعُونَ رَجُلًا وَامْرَأَتَانِ فَبَايَعُوا رَسُولَ اللّهِ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ ….فَأَذِنَ رَسُولُ اللّهِ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ لِلْمُسْلِمِينَ بِالْهِجْرَةِ إلَى الْمَدِينَةِ ….. ثُمّ خَرَجَ النّاسُ أَرْسَالًا يَتْبَعُ بَعْضُهُمْ بَعْضًا وَلَمْ يَبْقَ بِمَكّةَ مِنْ الْمُسْلِمِينَ إلّا رَسُولُ اللّهِ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ وَأَبُو بَكْرٍ وَعَلِيّ .( زاد المعاد: 3/ 38-45)
“Kemudian Rasulullah Saw ketika pecan raya Aqabah bertemu enam kelompok kaum Anshor, semuanya dari Bani Khajraj…..lalu Rasulullah mengajak mereka kepada Islam, maka Islamlah mereka…….Kemudian mereka kembali ke Madinah dan mengajak penduduk Madinah untuk masuk Islam, maka menyebarlah Islam di Madinah sehingga tidak tersisa satu rumahpun kecuali telah masuk ke dalamnya Islam. Tatkala tahun berikutnya datang (kepada Rasulullah) dua belas orang diantara mereka….lalu berjanji kepada kami dengan baiat aqabah (I)…..Pada sepertiga malam pertama pada malam Aqabah datang menyelinap (diam-diam) kepada Rasulullah Saw tujuh puluh tiga orang laki-laki dan dua orang perempuan, lalu mereka baiat kepada Rasulullah Saw (Baiat Aqabah II)…..Maka Rasulullah Saw mengizinkan kaum muslimin untuk hijrah ke Madinah….lalu keluarlah orang-orang (hijrah ke Madinah) dan tidak tersia kaum muslimin di Mekah kecuali Rasulullah Saw, Abu Bakar dan Ali r.a.”.
3. Alasan Surat At-Taubah tidak dimulai dengan basmalah:
- Malaikat Jibril A.s. tidak membaca basmalah ketika menyampaikan kepada Rasulullah Saw
- Menurut sayidina Utsman r.a. surat At-Taubah sambungan dari surat Al-Anfal
- Kandungan surat At-Taubah banyak berisi mengumbar janji-janji orang-orang kafir, mengecam musyrikin, sementara basmalah berisi kasih sayang
- Kebiasaan orang Arab saat membuat perjanjian tidak mencantumkan basmalah.
- Hukum menulis/membaca basmalah pada awal surat At-Taubah menurut Syekh Ibnu Hajar haram dan menurut Syekh Romli makruh, sedangkan ditengah surat hukumnya makruh (Syekh Ibnu Hajar) dan boleh (Syekh Romli).
Dasar : - Tafsir Ibnu Katsir juz 4 hal. 101 (Al-Maktabah asy-Syamilah)
- Tafsir Shawi juz 3 hal. 20; juz 1 hal. 126
- Tafsir Jalalain juz 1 hal. 126
- Tafsir Munir juz 1 hal. 329
- Fathul Bari li Ibni Hajar juz 13 hal.83 (Al-Maktabah asy-Syamilah)
- Umdatul Qari Syarhu Shahihil Bukhari juz 27 hal. 268 (Al-Maktabah asy-Syamilah)
وَقِيلَ لِأَنَّهُمْ لَمَّا جَمَعُوا الْقُرْآن شَكُّوا هَلْ هِيَ وَالْأَنْفَال وَاحِدَةٌ أَوْ ثِنْتَانِ فَفَصَلُوا بَيْنَهُمَا بِسَطْرٍ لَا كِتَابَةَ فِيهِ وَلَمْ يَكْتُبُوا فِيهِ الْبَسْمَلَة . وَرَوَى ذَلِكَ اِبْن عَبَّاس عَنْ عُثْمَان وَهُوَ الْمُعْتَمَد ، وَأَخْرَجَهُ أَحْمَد وَالْحَاكِم وَبَعْض أَصْحَاب السُّنَن .(فتح البارى لابن حجر : 13/83)
“Satu qaol mengatakan karena ketika mengumpulkan Al-Quran mereka ragu-ragu apakah At-Taubah dan Al-Anfal satu surat atau dua surat yang berbeda? Lalu mereka memisahkan keduanya dengan pemisah tanpa tulisan dan tidak menuliskan basmalah pada pemisah surat tersebut”.
عن ابن عباس قال سألت عليا رضي الله تعالى عنه عن ذلك فقال لأن البسملة أمان وبراءة نزلت بالسيف ليس فيها أمان قال القشيري والصحيح أن البسملة لم تكتب فيها لأن جبريل عليه السلام ما نزل بها فيها (عمدة القاري شرح صحيح البخاري : 27/268)
Kata Ibnu Abas, aku bertanya kepada Ali r.a. tentang itu (tidak dituliskannya basmalah pada permulaan surat at-Taubah), jawabnya karena basmalah adalah keamanan / kasih sayang sedangkan “baraah” diturunkan dengan pedang / peperangan yang bukan keamanan/kasih sayang. Menurut a-Qusyarie dan qaol shahih, bahwa basmalah tidak ditulis pada nya (awal surat at-Taubah) karena malaikat Jibril a.s. tidak menurunkan (At-Taubah) dengannya (basmalah)”.
4. a. Thariqah umum adalah menjauhi hal-hal yang haram, yang makruh, dan hal-hal yang mubah yang tidak berguna, serta melaksanakan hal-hal yang wajib, dan sekuat tenaga melaksanakan hal-hal yang sunah.
b. Thariqah dzikir adalah mendawamkan dzikir dengan jumlah dan tatacara tertentu di bawah asuhan seorang mursyid.
c. Thariqah tashawuf adalah cara tertentu yang dilakukan oleh para pelaku suluk menuju kepada Allah Swt dengan memilih perilaku yang paling berhati-hati dalam segala perbuatan seperti wira’i, ‘azimah (memilih hukum yang utama, bukan yang murah) dan riyadlah untuk menghindari kemewahan duniawi, dengan menempuh beberapa pos dan peningkatan maqam demi maqam. (Kifayatul Atqiya’ hal. 10).
Dasar : - Tanwirul Qulub hal. 415 - Khazinatul Ashrar hal 16
- Jaami’ul Ushul hal. 335; At-Ta’rifat hal. 123 - Al-Ma’ariful Muhammadiyyah hal. 81
- Kifayatul Azkia hal. 10
Tanwiirul Quluub hal. 415 :
والطريقة هي اجتناب المحرمات والمكروهات وفضول المباحات وأداءالفرائض ومااستطاع من النوافل تحت رعاية عارف من اهل النهايات.
“Thariqah adalah menjauhi hal-hal yang haram, yang makruh, dan hal-hal yang mubah yang tidak berguna, serta melaksanakan hal-hal yang wajib, dan sekuat tenaga melaksanakan hal-hal yang sunah, di bawah asuhan seorang mursyid yang arif yang maqamnya tinggi”.
Jaami’ul Ushul hal. 335 :
والطريقة هي السيرة المختصة بالسالكين الى الله تعالى مع قطع المنازل والتراقي في المقاماة
“Thariqah adalah cara tertentu yang dilakukan oleh para pelaku suluk menuju kepada Allah Swt dengan menempuh beberapa pos dan peningkatan maqam demi maqam”.
Khazinatul Ashrar hal. 16 :
وقال الشيخ ابو على الدقاق لوان رجلا يوحى اليه ولم يكن له شيخ لايجيء منه شيء من الأسرار.
“Syekh Abu Ali al-Daqqaq berkata: Seandainya seseorang (selain Nabi) diberi ilham tanpa memiliki guru, maka tidak ada sedikitpun keberkahan yang didapat darinya”.
Al-Ma’ariful Muhammadiyyah hal. 81 :
كان علي كرم الله وجهه سأل النبي صلى الله عليه وسلم فقال يا رسول الله دلنى على اقرب الطرق الى الله تعالى واسهلها على عباده وافضلها عند الله تعالى فقال يا علي عليك بمداومة ذكرالله فى الخلوات فقال علي هكذا فضيلةالذكر وكل الناس ذاكرون فقال صلى الله عليه وسلم يا علي لاتقوم الساعة وعلى وجه الأرض من يقول الله, الله. فقال علي كيف اَذكر يارسول الله فقال غَمِّضْ عينيك وَاسمع منى.
“Ali karamallahu wajhah telah bertanya kepada Rasulullah Saw: Wahai Rasulullah, tunjukkanlah saya ke jalan terdekat menuju Alaah Swt yang paling mudah bagi hamba-hamba-Nya dan paling utama bagi Allah! Jawab Rasulullah Saw: Wahai Ali, biasakanlah berdzikir kepada Allah secara istiqamah pada saat khalwat. Kata Ali: Begitulah keutamaan dzikir dan seperti itulah orang-orang akan berdzikir. Selanjutnya Rasulullah Saw bersabda: Wahai Ali, kiamat tidak akan terjadi selama di muka bumi masih ada orang yang mengucapkan Allah, Allah. Lalu Ali bertanya: Bagaimana cara saya berdzikir, wahai Rasulallah? Beliau menjawab: Pejamkan kedua matamu kemudian dengarkan saya!”
- والله اعلم
13 Desember 2009 pada 6:51 am |
Lots of people blog about this matter but you wrote down some true words!
12 Januari 2010 pada 11:05 pm |
Thank you very much !