Januari 2009
Yayasan At-Taubah, 23 Januari 2009
MASALAH :
1. Apakah aksi mogok makan (dan minum) yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang dalam rangka unjuk rasa, protes atau menuntut sesuatu dibenarkan menurut Islam?
2. Bagaimana pula bila aksi mogok makan itu dinadzarkan selama tuntutan yang bersangkutan belum dikabulkan ?
3. Bagaimana hukum menggerak-gerakkan (ke atas ke bawah) jari telunjuk pada saat tasyahud ? Apakah benar kaifiyat seperti itu adalah pendapat ulama Syafi’iyah ?
Kesimpulan jawaban :
1. Aksi mogok makan dalam rangka unjuk rasa, protes atau menuntut sesuatu tidak dibenarkan dalam Islam, karena:
a. Mogok makan, unjuk rasa, protes dan sejenisnya merupakan salah satu bentuk amar ma’ruf nahi munkar, dan amar ma’ruf nahi munkar diwajibkan dalam Islam selama tidak membahayakan diri sendiri dan orang lain. Sedangkan dalam mogok makan terdapat unsur membahayakan diri sendiri.
- Islam mewajibkan umatnya untuk menjaga keselamatan dirinya (hifdun nafs).
- Islam memerintahkan amar ma’ruf nahi munkar dengan cara yang baik (bil ihsan wa mauizhatun hasanah)
Dasar : - QS. Al-A’raf: 157
- Nihayatuz zain, halaman 360
- Bujairimi ala al minhaj juz 4 halaman 248
- Is-adur Rofiq Juz 2 halaman 68
- I’anatut Thalibin juz 4 halaman 183
الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالْأَغْلَالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ فَالَّذِينَ آَمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنْزِلَ مَعَهُ أُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (الأعراف: 157)
“(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang umi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang makruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntun. ”.
1.
وَشَرْطُ وُجُوبِ الأَمْرِ وَالنَّهْيِ عَلَى مُكَلَّفٍ أَنْ يَأْمَنَ عَلَى نَفْسِهِ وَعُضْوِهِ وَمَالِهِ وَإِنْ قَلَّ كَدِرْهَمٍ وَعِرْضِهِ وَعَلَى غَيْرِهِ بِأَنْ لَمْ يَخَفْ مَفْسَدَةً عَلَيْهِ أَكْثَرَ مِنْ مَفْسَدَةٍ المُنْكَرِ الوَاقِعِ وَيَحْرُمُ مَعَ الخَوفِ عَلَى الغَيْرِ مَعَ خَوفِ المَفْسَدَةِ المَذْكُورَةِ
Syarat wajib amar makruf nahi mungkar bagi setiap mukallaf adalah: rasa aman/keselamatan bagi dirinya, anggota badannya, dan hartanya meskipun sedikit semisal satu dirham, juga keselamatan kehormatannya, dan keselamatan orang lain, dengan tidak ada kekhawatiran terjadi kerusakan yang lebih besar dari kemungkaran tersebut, dan haram apabila khawatir mencelakakan orang lain serta terjadi kerusakan tersebut (Nihayatuz zain halaman 360)..
2. Hukum nadzar mogok makan tidak sah (tidak harus dipenuhi) bahkan hukumnya haram apabila aksi mogok tersebut mengarah kepada tindakan maksiat seperti untuk menuntut sesuatu yang bukan haknya atau mencelakakan diri.
Dasar : - Shahih Bukhari, juz 22 hal. 152 (dalam Al-Maktabah asy-Syamilah)
- Sunan Al-Baihaqi, juz 2 hal. 390 (dalam Al-Maktabah asy-Syamilah)
- Al-Majmu’, juz 8 hal. 452 (dalam Al-Maktabah asy-Syamilah)
عَنْ عَائِشَةَ – رضى الله عنها – عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « مَنْ نَذَرَ أَنْ يُطِيعَ اللَّهَ فَلْيُطِعْهُ ، وَمَنْ نَذَرَ أَنْ يَعْصِيَهُ فَلاَ يَعْصِهِ (صحيح البخارى: 22/152)
“Dari Aisyah r.a., Rasulullah Saw bersabda: Barang siapa nadzar untuk taat kepada Allah maka taatilah, dan barang siapa nadzar untuk maksiat kepada-Nya maka janganlah maksiat (jangan laksanakan nadzar tersebut)”.
لا نذر فى معصية الله ولا فى قطيعة رحم ولا فيما لا يملك ابن آدم (سنن البيهقى : 2/395)
“Tidak boleh nadzar pada maksiat kepada Allah, memutus silaturahmi dan sesuatu yang tidak dimiliki Bani Adam”.
(وأما) المعاصي كالقتل والزنا وصوم يوم العيد وأيام الحيض والتصدق بما لا يملكه فلا يصح نذره لما روى عمران بن الحصين رضي الله عنه ان النبي صلى الله عليه وسلم قال (لا نذر في معصية الله ولا فيما لا يملكه ابن آدم) (المجموع: 8/452)
“Adapun pada perkara maksiat seperti membunuh, zina, puasa pada hari ied, puasa ketika haid dan shadaqah dengan sesuatu yang bukan miliknya, maka tidak sah nadzarnya (tidak boleh dilaksanakan), sebagaimana hadits riwayat Imran bin Hashin r.a. bahwa Nabi Saw bersabda: Tidak sah nadzar pada maksiat kepada Allah dan pada sesuatu yang bukan milik Bani Adam”.
3. Menggerak-gerakkan telunjuk pada saat tasyahud menurut Jumhur Ulama hukumnya makruh, tetapi tidak membatalkan shalat. Sebagian ulama Syafi’iyah ada yang membolehkannnya.
Dasar : - Al-Majmu, juz 3 hal. 454 (dalam Al-Maktabah asy-Syamilah)
(الصحيح) الذى قطع به الجمهور أنه لا يحركها فلو حركها كان مكروها ولا تبطل صلاته لانه عمل قليل (والثاني) يحرم تحريكها فان حركها بطلت صلاته حكاه (1) عن أبى علي بن أبى هريرة وهو شاذ ضعيف (والثالث) يستحب تحريكها حكاه الشيخ أبو حامد والبندنيجى والقاضى أبو الطيب وآخرون وقد يحتج لهذا بحديث وائل بن حجر رضى الله عنه أنه وصف صلاة رسول الله صلى الله عليه وسلم وذكر وضع اليدين في التشهد قال ” ثم رفع أصبعه فرأيته يحركها يدعو بها ” رواه البيهقى باسناد صحيح قال البيهقى يحتمل أن يكون المراد بالتحريك الاشارة بها لا تكرير تحريكها فيكون موافقا لرواية ابن الزبير وذكر باسناده الصحيح عن ابن الزبير رضى الله عنهما أن النبي صلي الله عليه وسلم ” كان يشير بأصبعه إذا دعا لا يحركها ” رواه أبو داود باسناد صحيح واما الحديث المروى عن ابن عمر عن النبي صلي الله عليه وسلم ” تحريك الاصبع في الصلاة مذعرة للشيطان ” فليس بصحيح قال البيهقى تفرد به الواقدي وهو ضعيف (المجموع: 3/454)
“(Qaol Shahih) yang ditetapkan oleh Jumhur Ulama, bahwa isyarah dengan telunjuk saat tasyahud itu tidak digerak-gerakkan, maka jika menggerakkannya hukumnya makruh dan tidak membatalkan shalatnya, karena termasuk amal qalil. (Kedua) Haram menggerak-gerakkannya, maka jika menggerak-gerakkannya batallah shalatnya. Hadits yang diriwayatkan dari Abi Ali bin Abi Hurairah adalah sadz dlaif. (Ketiga) disunahkan menggerakkannya. Telah menghikayatkan akan qaol ini oleh Syekh Abu Hamid, Syekh Bundaniji dan al-Qadli Abu Thayib dan lainya, dan menghendaki qaol ini dengan dasar hadits dari Wail bin Hijir r.a. tentang sifat shalat Rasulullah Saw dan menceriterakan tentang meletakkan kedua tangan dalam tasyahud, katanya:” kemudian mengangkat jarinya, maka aku lihat beliau menggerakannya”.HR Al-Baihaqi dengan sanad shahih. Berkata Imam Baihaqi: Bahwa yang dimaksud dengan “menggerakkan” adalah isyarat dengan telunjuk tanpa mengulang-ulang gerakkannya. Maka jadilah pengertian ini sesuai dengan riwayat Ibnu Jabir dengan sanad shahih bahwa “ Nabi Saw berisyarah dengan jarinya ketika berdua tanpa menggerak-gerakkannya”. HR.Abu Daud. Adapun hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Umar dari Nabi Saw “ menggerakkan jari dalam shalat adalah menakut-nakuti syetan” bukan hadits shahih. Manurut Imam Baihaqi adalah hadits dlaif.
- والله اعلم -