April 2008
Yayasan At-Taubah, 11 April 2008
MASALAH :
1. Bagaimana hukum jual beli dengan sistem kredit ?
2. Bagaimana hukum tukar menukar uang valas dengan rupiah ?
3. Siapakah Khidir AS itu, apakah beliau seorang Rasul, Nabi atau Waliyullah ? Apakah beliau masih hidup atau sudah wafat ? Jika masih hidup di mana keberadaannya ?
4. Apakah Allah merasakan manisnya gula, asinnya garam, dan sebagainya ?
Kesimpulan jawaban :
1. Jual beli dengan system kredit hukumnya, tapsili :
a. boleh, jika harga, takaran dan timbangan serta waktunya diketahui dan disepakati kedua belah pihak. Karena menurut jumhur ulama, jual beli dengan system kredit seperti ini mengandung unsur tolong-menolong dan memberi keleluasaan bagi manusia.
b. tidak boleh, jika si pembeli hanya mengatakan “ya saya terima jual beli ini” tanpa menetapkan apakah secara kontan atau kredit. Karena kasus seperti ini termasuk ke dalam Baiataini fi baiatin (dua jenis jual beli dalam satu aqad) yang dilarang oleh Rasulullah Saw.
Dasar : - Fatawi Yas-alunaka juz 2 hal. 74-75
- Fiqhul Islam wa Adilatuhu juz 9 hal. 417
- Qawaidul Buyu’ wa qawaidul Furu’ juz 1 hal. 18
- Aunul Ma’bud juz 7 hal. 452
- Fathul Bari li Ibni Hajar juz 7 hal.7
- Fatawi as-Syubkatil Islamiyah juz 2 hal. 104-105
Fatawi Yas-alunaka juz 2 hal.74-75 dalam Al-Maktabah Samilah :
الجواب : البيع بالتقسيط جائز شرعاً ولا مانع منه ويدل على ذلك قوله تعالى: يا أيها الذين آمنوا إذا تداينتم بدين إلى أجل مسمى فاكتبوه. وكذلك ما ورد في الحديث عن ابن عباس رضي الله عنهما قال : قدم رسول الله صلى الله عليه وسلم المدينة وهم يسلفون في الثمار السنة والسنتين والثلاث فقال رسول الله من أسلف في شيء فليسلف في كيل معلوم ووزن معلوم وأجل معلوم ) رواه البخاري ومسلم. وثبت عن عائشة رضي الله عنها قالت : اشترى رسول الله صلى الله عليه وسلم من يهودي طعاماً بنسيئة إلى أجل ورهنه درعاً من حديد رواه البخاري ومسلم .
Jual beli dengan kredit boleh menurut syara, tidak ada larangan padanya. Dalilnya Firman Allah Swt: “Hai orang-orang yang beriman jika kamu sekalian memiliki hutangyang ditangguhkan sampai waktu yang ditentukan, maka catatlah”(QS. Al-Baqarah: 281), demikian pula sebagaimana hadits Rasulullah Saw: “ Rasulullah Saw tiba di Madinah, mereka sedang mengikat perjanjian hutang suatu barang dalam waktu satu tahun, dua tahun atau tiga tahun” dan Sabda Rasulullah Saw: ”Barang siapa yang mengikat perjanjian hutang piutang pada suatu perkara, hendaklah mengikatnya pada takaran yang diketahui dan timbangan yang diketahui (kedua belah pihak)”(HR.Bukhari & Muslim). Dan telah ada ketetapan dari sayidatina ‘Aisyah ra: “Rasulullah Saw telah membeli makanan dari seorang Yahudi dengan menangguhkan pembayaran (kredit) sampai waktu tertentu dan menggadaikan (memberi jaminan) dengan baju besi” (HR. Bukhari & Muslim).
.وليس في بيع التقسيط ربا وليس فيه غرر ما دام العاقدان قد بتا البيع فإذا قال البائع للمشتري : أبيعك هذه السلعة بألف دينار حاله وبألف ومئة مؤجلة فقال المشتري : اشتريها بألف ومئة مؤجلة فالعقد صحيح ولا مانع منه وزيادة المئة ليست من الربا المحرم فالصورة المذكورة جائزة.
Jual beli dengan kredit bukan riba dan tidak termasuk penipuan selama kedua belah pihak pejual dan pembeli menetapkannya. Jika penjual berkata: “Aku jual barang dagangan ini seharga seribu dinar kontan, dan seharga seribu seratus dirham secara kredit”, lalu pembeli menjawab: “Aku beli barang tersebut seharga seribu seratus dirham secara kredit”. Maka sah aqadnya, dan tidak ada larangan padanya, sedangkan kelebihan harganya tidak termasuk riba yang diharamkan. Oleh karena itu jual beli seperti itu boleh.
وأما إذا قال المشتري : قبلت ولم يحدد ما الذي قبله هل هو الثمن الحال أم الثمن المؤجل ؟ فلا يجوز ذلك ويعتبر العقد باطلاً لأنه بيعتين في بيعة حيث أنه لم يجزم ببيع واحد .
Apabila jawab pembeli: “Aku terima”. Sedangkan tidak ditetapkan sebelumnya apakah harga tersebut harga kontan atau harga tempo (kredit)? Maka aqad tersebut tidak boleh dan aqadnya batal, karena terjadi dua macam jual beli dalam satu (aqad) jual beli, dengan tidak ditetapkannya satu (jenis) aqad jual beli.
2. Tukar menukar uang (rupiah) dengan valas (nilai mata uang asing) hukumnya boleh, karena masing-masing dari keduanya memiliki nilai yang berbeda, seperti berbedanya nilai mata uang dinar dengan mata uang dirham.
Dasar : - I’anatut Thalibin jz 3 hal 27
- Mughni Muhtaj juz 2 hal. 21
- Fatawi as-Syubkatil Islamiyah juz 198 hal. 296 dalam Al-Maktabah Samilah
- Fiqhussunnah juz 3 hal 50 dalam Al-Maktabah Samilah
- Fiqhussunnah juz 3 hal 136 dalam Al-Maktabah Samilah
Ianatut Thalibin juz 3 hal. 27 dalam Al-Maktabah Samilah :
(تنبيه) قال في المغني: بيع النقد بالنقد من جنسه وغيره يسمى صرفا، ويصح على معينين بالاجماع – كبعتك، أو صارفتك هذه الدنانير بهذه الدراهم – وعلى موصوفين على المشهور، كقوله بعتك، أو صارفتك دينارا صفته كذا في ذمتي بعشرين درهما من الضرب الفلاني في ذمتك. ولو أطلق فقال صارفتك على دينار بعشرين درهما، وكان هناك نقد واحد لا يختلف، أو نقود مختلفة، إلا أن أحدها أغلب: صح، ونزل الاطلاق عليه، ثم يعينان ويتقابضان قبل التفرق.
ويصح أيضا على معين بموصوف: كبعتك هذا الدينار بعشرة دراهم في ذمتك، ولا يصح على دينين: كبعتك الدينار الذي في ذمتك بالعشرة التي لك في ذمتي، لان ذلك بيع دين بدين.
(Tanbih) Menurut Kitab al-Mughni : Tukar menukar uang dengan uang dalam satu jenis atau lain jenis dinamakan “sharfan” (tukar-menukar), berdasarkan ijma ulama hukumnya sah jika tertentu (nilainya), seperti “aku tukar padamu beberapa dinar (uang mas) ini dengan beberapa dirham (uang perak) ini”, dan menurut qaol masyhur sah jika dijelaskan sifat keduanya, seperti katamu: “aku tukar denganmu satu dinar yang sifatnya seperti ini pada tanggunganku dengan dua puluh dirham cetakan si pulan yang ada pada tanggunganmu”. Dan kalau dimutlakkan, sebagaimana kata seseorang: “aku tukar denganmu satu dinar dengan dua puluh dirham”, maka jadilah di sini satu mata uang yang tidak berbeda atau beberapa mata uang yang berbeda, kecuali bahwa salah satunya umum, maka sah (tukar menukarnya). Dan berlaku kemutlakkan atasnya, lalu ditetapkan (nilai) keduanya dan diserah terimakan keduanya sebelum berpisah.
Dan sah pula (tukar menukar) atas uang yang ditentukan dengan sifatnya, seperti “ aku tukar denganmu satu dinar ini dengan sepuluh dirham pada tanggunganmu. Dan tidak sah (tukar menukar) atas dua hutang, sepereti “aku tukar denganmu satu dinar pada tanggunganmu (hutangmu) dengan sepuluh dinar pada tanggunganku (hutangku)”, karena yang demikian itu termasuk tukar menukar hutang.
3. Menurut jumhur ulama Sayidina Khidir AS adalah seorang Nabi, sedangkan menurut sebagian ulama (Shufiyah) beliau adalah Waliyullah. Namun semuanya sepakat bahwa beliau masih hidup, yaitu berada di tanah Arab.
Dasar : - Fatawi ar-Ramli juz 6 hal. 52-53 (Al-Maktabah Samilah)
- Tafsir Shawi juz 3 hal. 20
- Tafsir Ibnu Katsir juz 5 hal. 187 (Al-Maktabah Samilah)
- Tasir Jalalain juz 5 hal. 204 (Al-Maktabah Samilah)
Fatawi Ar-Romli juz 6 hal. 52-53 dalam Al-Maktabah Samilah :
( فَأَجَابَ ) أَمَّا السَّيِّدُ الْخَضِرُ فَالصَّحِيحُ كَمَا قَالَهُ جُمْهُورُ الْعُلَمَاءِ أَنَّهُ نَبِيٌّ لِقَوْلِهِ تَعَالَى { وَمَا فَعَلْتُهُ عَنْ أَمْرِي } وَلِقَوْلِهِ تَعَالَى وَ { آتَيْنَاهُ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا } أَيْ الْوَحْيَ وَالنُّبُوَّةَ لَا وَلِيٌّ ، وَإِنْ خَالَفَ بَعْضُهُمْ فَقَالَ لَمْ يَكُنْ الْخَضِرُ نَبِيًّا عِنْدَ أَكْثَرِ أَهْلِ الْعِلْمِ وَالصَّحِيحُ أَيْضًا أَنَّهُ حَيٌّ فَقَدْ قَالَ ابْنُ الصَّلَاحِ جُمْهُورُ الْعُلَمَاءِ وَالصَّالِحِينَ عَلَى أَنَّهُ حَيٌّ وَالْعَامَّةُ مَعَهُمْ فِي ذَلِكَ وَقَالَ النَّوَوِيُّ الْأَكْثَرُونَ مِنْ الْعُلَمَاءِ عَلَى أَنَّهُ حَيٌّ مَوْجُودٌ بَيْنَ أَظْهُرِنَا وَذَلِكَ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ بَيْنَ الصُّوفِيَّةِ ، وَأَهْلِ الصَّلَاحِ وَحِكَايَتُهُمْ فِي رُؤْيَتِهِ وَالِاجْتِمَاعِ بِهِ وَالْأَخْذِ عَنْهُ وَسُؤَالِهِ وَجَوَابِهِ وَوُجُودِهِ فِي الْمَوَاضِعِ الشَّرِيفَةِ أَكْثَرُ مِنْ أَنْ تُحْصَى. ا هـ. وَالصَّحِيحُ أَيْضًا أَنَّهُ مِنْ الْبَشَرِ لَا مِنْ الْمَلَائِكَةِ وَمَقَرُّ السَّيِّدِ الْخَضِرِ وَالسَّيِّدِ إلْيَاسَ أَرْضُ الْعَرَبِ فَقَدْ قَالَ عَمْرُو بْنُ دِينَارٍ إنَّ الْخَضِرَ ، وَإِلْيَاسَ لَا يَزَالَانِ حَيَّيْنِ فِي الْأَرْضِ مَا دَامَ الْقُرْآنُ فِي الْأَرْضِ فَإِذَا رُفِعَ مَاتَا….
Adapun sayidina Khadir menurut qaol shahih sebagaimana dikatakan oleh jumhur ulama adalah seorang nabi, berdasarkan firman Allah Swt (wamaa fa’altuhu ‘an amriy) dan firman-Nya (aatainaahu rahmatan min ‘indinaa) yaitu wahyu dan kenabian bukan wali, sekalipun berbeda pendapat sebagian ulama dari kebanyakan ahlil ilmi yang mengatakan bahwa Khadir bukan nabi. Dan qaol shahih juga menyatakan bahwa beliau masih hidup. Menurut Ibnu Shalah, jumhur ulama dan jumhur para shalihin bahwa Khadir masih hidup. Menurut Imam Nawawi, kebanyakan para ulama menyatakan bahwa Khadir masih hidup maujud adanya, dan tentang ini sepakat antara jumhur ulama dan para ulama shufiyah. Dan hikayat mereka tentang melihat beliau, berkumpul dengannya, bertanya jawab dengannya, dan keberadaannya di tempat-tempat yang mulia, terlalu banyak untuk dihitung (tak terhitung banyaknya).
Dan menurut qaol shahih pula, bahwa Khadir adalah manusia biasa bukan malaikat, dan keberadaan sayidi Khadir dan sayidi Ilyas adalah di tanah Arab. Menurut Amr bin Dinar bahwa sayidi Khadir dan sayidi Ilyas keduanya terus hidup di bumi selama masih ada Al-Quran di bumi. Maka jika Al-Quran diangkat dari bumi baru keduanya wafat.
- والله اعلم -