Bahtsul Masail MMU :

Yayasan At-Taubah, Kaum Karawang, 25 Januari 2008

MASALAH :

1. Bagaimana hukum ta’adudul jum’ah dikaitkan dengan penerapannya di zaman sekarang ?

2. Bagaimana hukumnya mendirikan shalat Jum’at di Mesjid Sekolah, Pabrik / perusahaan, kantor, atau pasar ? Bagaimana pula jika di aula yang hanya digunakan untuk shalat Jum’at saja (tidak digunakan untuk shalat yang lain) ?

Kesimpulan jawaban :

1. Ta’adud jum’at pada dasarnya tidak boleh, tetapi menjadi boleh dengan syarat ada hajat : sulit untuk berkumpul, masjidnya terlalu kecil sehingga tidak memuat banyak jama’ah, berjauhan, ada perselisihan yang sulit disatukan.

2. Menyelenggarakan shalat jum’at di sekolah/pabrik/kantor/pasar/aula boleh dengan bolehnya ta’adud jum’at dan bolehnya melaksanakan shalat jum’at di lapangan.

3. Bagi awan boleh talfiq asal tidak dalam satu qadiyah.

Dalil jawaban no.1 :

KH. Zaenal Abidin Ahmad, Lc

Madzhab Syafi’i: Dalam satu desa tidak boleh didirikan lebih dari satu Jum’at, sebab sejak zaman Rasulullah SAW, Khulafaur Rasyidin sampai Tabi’in tidak pernah didirikan Jum’at lebih dari satu tempat dalam satu desa. Dalilnya :

1. Shahih Bukhari, hadits no. 902 Juz 4 hal 10 dalam Al-Maktabah Syamilah:

عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَتْ كَانَ النَّاسُ يَنْتَابُونَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ مِنْ مَنَازِلِهِمْ وَالْعَوَالِى ، فَيَأْتُونَ فِى الْغُبَارِ ، يُصِيبُهُمُ الْغُبَارُ وَالْعَرَقُ ، فَيَخْرُجُ مِنْهُمُ الْعَرَقُ ، فَأَتَى رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – إِنْسَانٌ مِنْهُمْ وَهْوَ عِنْدِى ، فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « لَوْ أَنَّكُمْ تَطَهَّرْتُمْ لِيَوْمِكُمْ هَذَا » . تحفة 16383

يَنْتَابُونَ berduyun-duyun pergi ke masjid. الْعَوَالِى tempat yang ada di timur kota Madinah (4 mil).

2. Al-Um juz I hal. 221 dalam Al-Maktabah Syamilah :

(قال الشافعي) رحمه الله تعالى ولا يجمع في مصر وإن عظم أهله وكثر عامله ومساجده إلا في موضع المسجد الاعظم وإن كانت له مساجد عظام لم يجمع فيها إلا في واحد وأيها جمع فيه أولا بعد الزوال فهى الجمعة وإن جمع في آخر سواه يعده لم يعتد الذين جمعوا بعده بالجمعة وكان عليهم أن يعيدوا ظهرا أربعا

Artinya:

Tidak boleh mendirikan shalat Jum’at dalam satu tempat (desa atau kota) meskipun penduduk dan pegawainya banyak serta masjidnya besar-besar, kecuali dalam satu masjid yang paling besar (masjid jami’). Kalau mereka memiliki beberapa masjid yang besar, maka pada masjid-masjid tersebut tidak boleh didirikan shalat Jum’at kecuali hanya pada satu masjid saja. Dan (jika ada lebih dari satu masjid yang mendirikan shalat Jum’at, maka) shalat Jum’at yang lebih dahulu dilakukan setelah tergelincirnya matahari itulah shalat Jum’at (yang sah). Kalau ada masjid yang di dalamnya didirikan shalat Jum’at juga setelah ini, maka tidak dianggap shalat Jum’at, dan mereka wajib mengerjakan shalat zhuhur empat rakaat.

3. Kenapa mesti dilakukan dalam satu masjid ? Tujuannya tak lain untuk menampakkan syiar Islam dalam satu persatuan dan kesatuan umat Islam. Dengan dilakukan dalam satu masjid, maka tujuan tersebut lebih tercapai. Namun itu bukan sesuatu yang mutlak. Larangan tersebut akan hilang manakala ada kemaslahatan (hajat) yang menuntutnya, yaitu :

a) Sulit untuk berkumpul

b) Masjidnya terlalu kecil, sehingga tidak memuat banyak jama’ah

c) Berjauhan

d) Ada perselisihan yang sulit disatukan, Imam Ramli mengatakan (Nihayah al-Muhtaj ila Syarhil Minhaj juz VII hal.22 dalam Al-Maktabah Syamilah) :

( الثَّالِثُ ) مِنْ الشُّرُوطِ ( أَنْ لَا يَسْبِقَهَا وَلَا يُقَارِنَهَا جُمُعَةٌ فِي بَلْدَتِهَا ) وَإِنْ كَانَتْ عَظِيمَةً وَكَثُرَتْ مَسَاجِدُهَا ، لِأَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْخُلَفَاءَ مِنْ بَعْدِهِ لَمْ يُقِيمُوا سِوَى جُمُعَةٍ وَاحِدَةٍ ، وَلِأَنَّ الِاقْتِصَارَ عَلَى وَاحِدَةٍ أَفْضَى إلَى الْمَقْصُودِ مِنْ إظْهَارِ شِعَارِ الِاجْتِمَاعِ وَاتِّفَاقِ الْكَلِمَةِ ( إلَّا إذَا كَبُرَتْ ) أَيْ الْبَلَدُ ( وَعَسُرَ اجْتِمَاعُهُمْ ) يَقِينًا عَادَةً ( فِي مَكَانِ ) مَسْجِدٍ أَوْ غَيْرِهِ فَيَجُوزُ حِينَئِذٍ تَعَدُّدُهَا بِحَسَبِ الْحَاجَةِ ، لِأَنَّ الشَّافِعِيَّ دَخَلَ بَغْدَادَ وَأَهْلُهَا يُقِيمُونَ بِهَا جُمُعَتَيْنِ وَقِيلَ ثَلَاثًا وَلَمْ يُنْكِرْ عَلَيْهِمْ ، فَحَمَلَهُ الْأَكْثَرُ عَلَى عُسْرِ الِاجْتِمَاعِ

Artinya:

Syarat yang ketiga adalah tidak didahului atau bersamaan dengan jum’at yang lain dalam satu desa atau kota, meskipun desa atau kota itu luas dan punya banyak masjid. Karena Nabi SAW dan shahabatnya tidak pernah melakukannya kecuali satu jum’at (dalam satu tempat). Dan karena mencukupkan pada satu shalat jum’at lebih mengantarkan pada tujuan didirikannya shalat jum’at, yaitu menampakkan syi’ar berkumpul dan bersatunya umat Islam. Kecuali kalau desa atau kota itu sangat luas, dan biasanya penduduknya sulit untuk berkumpul dalam satu masjid. Maka ketika itulah boleh ta’adudul jumu’ah (mendirikan shalat jum’at lebih dari satu) sesuai kebutuhan. Karena Imam Syafi’i pernah datang ke kota Baghdad sementara penduduknya mendirikan dua jum’atan. Dan beliau (diam saja) tidak melarangnya. (Berdasarkan inilah) maka mayoritas ‘ulama menafsirkan hal itu kepada sulitnya berkumpul di satu tempat.

Dapat disimpulkan bahwa selama masih memungkinkan, maka shalat jum’at harus didirikan dalam satu masjid. Tidak boleh lebih. Kecuali ada hal-hal lain yang menghendakinya.

Fiqhul Islam wa Adillatuh, juz II hal .279 – 282

Menurut jumhurul ulama termasuk Syafi’iyah kecuali ulama Hanafiyah berpendapat bahwa jum’atan lebih dari satu dalam satu daerah atau kampung yang punya nama sendiri-sendiri, tidak boleh, kecuali ada hajat yang mendesak. Alasannya:

Pertama: Secara etimologi (lughatan) lafadz jum’at berarti berkumpul. Shalat jum’at dinamai jum’at yang berarti berkumpul, memberi pengertian bahwa shalat jum’at itu harus dilaksanakan dalam satu tempat, agar makna berkumpul itu benar-benar bisa diwujudkan. Bagaimana bisa mewujudkan makna berkumpul kalau shalat jum’at dilaksanakan dalam banyak tempat. Tidak mungkin. Kalau tidak ada makna berkumpul berarti bukan shalat jum’at namanya, tapi shalat mutafarriqah.

Kedua: Secara riil shalat jum’at lebih dari satu belum pernah dilaksanakan pada masa Rasulullah SAW dan Khulafaur Rasyidin. Ini membuktikan—menurut penilaian jumhur—shalat jum’at tidak boleh lebih dari satu. Sebab tidak ada teladan langsung dari Rasul untuk mendirikan jum’at lebih dari satu….Jika ada hajat untuk mendirikan jum’atan lebih dari satu, maka tidak masalah, akan tetapi tidak boleh melebihi kadar yang dibutuhkan. Kalau dibutuhkan dua jum’atan maka tidak boleh mendirikan tiga jum’atan, dan seterusnya.

Yang dimaksud hajat dalam pembahasan jum’at adalah, pertama: keberadaan desa yang terlalu luas, sehingga sulit untuk hadir ke satu masjid. Kedua: masjid terlalu sempit sehingga tidak dapat menampung jama’ah. Ketiga: terjadi permusuhan antara jama’ah sehingga masing-masing kelompok mendirikan masjid sendiri-sendiri. Dengan tiga alasan ini, ulama sepakat “Jum’atan lebih dari satu bisa dilaksanakan”.

Sedangakan menurut ulama Hanafiyah dan sebagian ulama Hanabilah, jum’atan lebih dari satu (ta’adudul jum’ah) tidak ada masalah, boleh-boleh saja.

Menanggapi dalil pertama dari jumhur ulama, ulama Hanafiyah mengatakan : bukan berarti shalat jum’at yang dilakukan dalam beberapa tempat tidak memiliki arti berkumpul. Boleh jadi jum’atan yang dilakukan dalam satu, dua, tiga tempat, tapi makna berkumpul, makna kebersamaan dapat terwujud.

Menjawab dalil yang kedua, ulama Hanafiyah mengatakan : tidak dilaksanakannya shalat jum’at lebih dari satu, bukan berarti larangan untuk mendirikan jum’atan lebih dari satu, sebab pada masa Rasul, kenapa dilaksanakan hanya satu jum’at, karena satu-satunya orang yang layak tampil menyampaikan Islam dan orang yang diberi otoritas tasyri’ oleh Allah hanyalah Rasulullah SAW.

Dalil jawaban no.2 :

KH. Abdul Fatah Memed

Al-Fiqhu ‘ala Madzahibil ‘Arbaah juz I hal. 387 ( atau juz I hal.602 dalam Al-Maktabah Syamilah):

اتفق ثلاثة من الأئمة على جواز صحة الجمعة في الفضاء وقال المالكية : لا تصح إلا في المسجد وقد ذكرنا بيان المذاهب تحت الخط ( المالكية قالوا : لا تصح الجمعة في البيوت ولا في الفضاء بل لا بد أن تؤدي في الجامع

الحنابلة قالوا : تصح الجمعة في الفضاء إذا كان قريبا من البناء ويعتبر القرب بحسب العرف فإن لم يكن قريبا فلا تصح الصلاة وإذا صلى الإمام في الصحراء استخلف من يصلي بالضعاف

الشافعية قالوا : تصح الجمعة في الفضاء إذا كان قريبا من البناء وحد القرب عندهم المكان الذي لا يصح فيه للمسافر أن يقصر الصلاة متى وصل عنده وسيأتي تفصيله في مباحص ” قصر الصلاة ” ومثل الفضاء الخندق الموجود داخل سور البلد إن كان لها سور

الحنفية قالوا : لا يشترط لصحة الجمعة أن تكون في المسجد بل تصح في الفضاء بشرط أن لا يبعد عن المصر بأكثر من فرسخ وأن يأذن الإمام بإقامة الجمعة فيه كما تقدم في الشروط )

KH. Jafar Shiddiq

I’anatut Thalibin juz II hal. 58 :

(قوله: اي غير الامام الشافعي) أي باعتبار مذهبه الجديد، فلا ينافي أن له قولين قديمين في العدد أيضا، أحگهما أقلهم أربعة، حكاه عنه صاحب التلخيص، وحكاه شرح المهذب واختاره من أصحابه المزني، كما نقله الاذرعى في القوت، وكفى به سلفا في ترجيحه، فإنه من كبار أصحاب الشافعي ورواة كتبه الجديدة.وقد رجحه أيضا أبو بكر بن المنذر في الاشراف، كما نقله النووي في شرح المهذب.ثانى القولين اثنا عشر.وهل يجوز تقليد أحد هذين القولين الجواب: نعم.فانه قول للامام، نصره بعض أصحابه ورجحه، وقولهم القديم لا يعمل به: محله ما لم يعضده الاصحاب ويرجحوه، وإلا صار راجحا من هذه الحيثية،، وان كان مرجوحا من حيث نسبته للامام.وقال السيوطي: كثيرا ما يقول أصحابنا بتقليد أبي حنيفة في هذه المسألة، إذ هو قول للشافعي قام الدليل على رجحانه اهـ. وحينئذ تقليد أحد هذين القولين أولى من تقليد أبي حنيفة.

KH. Bunyamin Thoha

Karena madzhab Syafii mensyaratkan mustautinin, maka untuk jum’atan di perusahaan/kantor sebaiknya intiqal madzhab dengan taqlid ke madzhab Hanafi.

Dalil jawaban no.3 :

K. Asep Jalauddin

Bughiyatul Mustarsyidin hal. 9 :

وفى ك من شروط التقليد عدم التلفيق بحيث تتولد من تلفيقه حقيقة لايقول بـها كل من الإمامين قاله ابن حجر اذ لا فرق عنده بين ان يكون التلفيق فى قضية او قضيتين …………… وقال ابن زياد القادح فى التلفيق انما يتأتى اذا كان فى قضية واحدة بخلافه فى قضيتين فليس بقادح وكلام ابن حجر احوط وابن زياد اوفق بالعوام فعليه يصح التقليد فى مثل هذه الصورة

- والله اعلم -

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.